RSS

Catatan Akhir Sekolah “WE ARE THE BEST”

31 Mar

???????????????????????????????

WE ARE THE BEST

Senin, 30 Maret 2015 – Waktu tak terasa sudah hampir mendekati UN hanya tersisa 2 minggu lagi. Tadi pagi baru diumumkan hasil try out UN dan Alhamdulillah pada kertas keputusan itu dicoret mengulang yang menandakan aku lulus dan mudah-mudahan pada ujian yang sesungguhnya nanti akan lebih baik, Amin. Bumi berotasi hampir 3 tahun lamanya sudah, terhitung sejak aku duduk dibangku sekolah SMA IT Al-Madaniyah ini. Mengingat 3 tahun yang lalu itu, hampir tak sedikitpun cerita-cerita yang aku lupakan.

Kesan pandang pertama

Hari ini pula pernah terjadi di kehidupanku, tetapi dengan rasa dan suasana yang berbeda. Saat mendekati UN

seperti ini pikiran akan selalu dibebani, sudah pasti tentang menjawab soal UN namun yang tak bisa ditidakan pula, adalah sebuah pertanyaan  “Akan kemana aku melanjutkan jenjang berikutnya ?”. Tentu saja itu memerlukan rumusan yang matang. Mungkin beberapa orang melanturkan pertanyaan itu untuk sebuah jawaban yang berbeda dalam pikirannya. Dalam diri aku menjawab, sekolah itu memang tak penting nama asalkan dengan program dan fasilitas yang terhitung baik dan memadai. Beberapa orang memang merekomendasikan masuk ke sekolah negeri karena menurut opini mereka sekolah negeri sudah terjamin. Tak sedikit pula yang memuji sekolah-sekolah swasta, utamanya sebuah sekolah yayasan swasta yang baru tahun lalu diresmikan, YPI Al-Madaniyah Samuda. Berpaling dari permasalahan itu aku pun melewati UN dengan lancar dan Alhamdulillah menjadi alumni terbaik pada saat itu dengan lulus nilai rata-rata 8.0. Beberapa nama sekolah sudah dipilih sebagai pertimbangan diantaranya SMAN 1 MHS, SMAN 1 Cempaga, dan SMAN 1 Danau Sembuluh untuk sekolah bertingkatan Negeri yang disarankan oleh keluarga aku. Sementara orang tua aku cenderung menyarankan sekolah swasta yang menekankan unsur islami seperti MA Sabilal Muhtadin dan SMA IT Al-Madaniyah, Sampai pada keputusan terakhir aku memilih SMA IT Al-Madaniyah bersama dua orang teman satu sekolahku M. Husain dan Abdul Halim. Karena tinggal satu kampung, aku akan merencanakan tinggal bersama M. Husain. Jujur aku belum mengenal SMA IT Al-Madaniyah, hanya gambaran cerita masyarakat yang katanya sekolah megah bertingkat, belajar full day, dan penekanan agamanya yang kuat. Setelah formulir selesai dikembalikan oleh orang tuaku. Tes tulis dan wawancara pun dilaksanakan, dengan kemampuan yang aku miliki, aku yakin pada saat itu. Hari itu pula saat pandang pertamaku dengan SMA IT Al-Madaniyah Samuda, melihat gedungnya berlantai tiga, di depan dan samping berdiri megah pula SD IT dan SMP IT Al-Madaniyah. Terdengar alunan ayat suci Al-Quran yang dilantunkan Thoha lewat speaker. Aku sudah cukup jatuh cinta pada pandang pertamaku itu. Aku sudah optimis lulus, tanpa memasukan formulir sekolah cadangan. Alhamdulillah hasinya pun aku berhasil lulus tes masuk dengan peringkat ke 3 pada tes itu.

Suka Duka Masa Orientasi

Setelah dinyatakan lulus tes tulis dan wawancara, seperti yang umumnya pada sebuah sekolah tingkat menengah adalah diadakannya MOS (Masa Orientasi Siswa) untuk siswa baru. Tergabung dalam satu kelompokku adalah Ahdianor Fahraini, Saiful Azeni dan Rollyansyah alumni dari MTsN MHS, M. Salahudin dari MTs Sirajul Munir, Fahad Nur Aslam dari SMPN 1 MHS, Neo Kharisma Abadi dari SMPN 1 Sampit, satu lagi M. Amin dari SMPN 2 Teluk Sampit. Kami sama sekali belum mengenal satu sama lain. Dari sinilah pertemanan terjalin diantara kami. Tiap-tiap harinya saat MOS berlangsung, aku berangkat subuh dengan perahu.  Perjalanan yang panjang melewati sungai mentaya dari tempat tinggalku di desa Babirah Kec. Pulau Hanaut, yang terhitung sekitar lebih dari 10 Km jaraknya dari kota Samuda. Disitu perjuangan yang begitu berat bagiku. Namun hari-hari yang berat itu pun berlalu dan berjalan dengan lancar.

Malam Pertama Kost

Jarak sekolah dan tempat tinggalku memang sangat jauh, sehingga tidak memungkinkan berangkat sekolah dari rumah, sebelumnya sudah diputuskan dan dirundingkan bersama, bahwa aku akan tinggal di kost bersama M. Husain. Orang tua sudah kesana-kemari mencari tempat kost untuk tempat persinggahan kami menuntut ilmu di kota seberang sungai mentaya itu. Kami pun tinggal di sebuah kost di Jalan M. Ilmi, Jaya Kelapa. Jaraknya memang cukup jauh dari sekolah, tapi karena orang tua belum mempercayai kami untuk mandiri sepenuhnya dipilihlah tempat itu karena beberapa keluarga dari ayah tinggal tidak jauh dari kost kami tinggal. Sore hari orang tua yang mengantar kami pun pamit pulang. Tak lama matahari terus bergerak kearah barat menandakan datangnya malam. Perasaan yang tidak karuan antara percaya dan tidak malam itu semua seperti bangun dari mimpi, dengan suasana yang sangat berubah. Malam yang biasanya selalu diwarnai dengan kebersamaan dalam bincang-bincang malam yang harmonis kini senyap dalam hening malam. Sedikit bincang diantara kami berdua memecah hening itu, dengan beberapa cerita humor yang tidak masuk akal dan diselingi pula dengan cerita serius akan masa depan dan sekolah baru itu. Malam kian larut tak disadari mata terlelap dalam tidur.

Menggoreskan Pena dalam Lembaran Baru

Aturan yang dibuat sekolah untuk kelas X siswa dibagi menjadi dua ruang Xa dan Xb. Diruang Xa dikhususkan untuk putra dan Xb untuk kelas putri dan setelah di kelas XI putra dan putri digabung dalam satu kelas per jurusan. Hari pertama masuk terasa sangat canggung, hanya beberapa orang dari kelas itu yang aku kenal. Tersipu-sipu aku, Husain dan Halim menginjakkan kaki melewati keset pintu kelas Xa itu. Sesekali aku senyum tanpa menegur dengan teman satu kelompok saya saat MOS itu karena lupa-lupa ingat nama mereka. Adalagi tiga orang low profile Sandri, Samsul dan Amin pada saat tes lalu kami saling bertanya tentang materinya. Mereka juga sepertinya masih canggung. Lalu ada dua orang aneh yang terpisah dari kelompok alumninya adalah Alfianur dan Ali pada saat tes lalu juga bertanya tak jelas kepadaku. Terakhir, orang yang ku kenal namanya Roni, dari awal pertama datang ke sekolah kami sudah berpapasan namun  saling cuek kerena sepertinya susah bergaul. Teman saya yang satu ini lebih terasingkan lagi. Tapi setelah MOS berlangsung saya baru tahu namanya adalah Roni, dan sampai selesai  dia terus beradaptasi ternyata sekarang  sifatanya sebaliknya. Dari ceritanya dia alumni dari MTs di sebuah desa bernama Robatal, Sampang, Jawa Timur. Namun karena sikap sosialisnya mudah saja untuknya bisa bergaul. Pemandangan kelas dengan kelompok-kelompok alumni pun semakin hari semakin membaur.  Aku pun semakin mengenal satu persatu penghuni kelas Xa. Pertemananku dengan kakak kelas pun cukup baik. Tidak seperti bayanganku kakak kelas itu selalu jahat, ternyata di SMA IT Al-Madaniyah tidak seperti itu. Dan sampai-sampai  kakak kelas mengikutkanku dalam OSIS dan Pramuka di sekolah. Dari situ banyak pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga dan berguna bagi ku. Dari belajar berbicara didepan umum, sampai pada pelajaran etika.

Beradaptasi di Lingkungan

Setelah saling mengenal satu sama lain, mulai keakraban sudah terjalin. Semua orang sudah saling beradaptasi. Dua orang jawa Neo dan Fahad sudah berteman akrab, satu lagi adalah Zein yang melengkapi persahabatan kontroversial itu. Namun kelas yang penghuninya 100% laki-laki ini memang seperti yang dibayangkan, banyak ulah yang terjadi dan mengundang kontroversi.  Walaupun demikian di dalam kelas yang angker itu tak pernah sedikit pun terjadi konflik diantara para penghuninya. Disamping semuanya juga Xa kelas yang banyak prestasinya. Baik prestasi dilingkungan sekolah sampai ke beberapa tingkat diatasnya. Setelah sekian lama berjalan dengan kontroversi dan prestasinya kami pun setelah kenaikan kelas ini harus di pecah menjadi dua, ada pula yang setia untuk tinggal di kelas Xa.  Dipecah lah kami menuju ke kelas XI IPA dan XI IPS. Ada pula yang berbeda arah yaitu Ahmad Rayan harus setia di kelas Xa. Dua teman sejati nan kontroversi  Neo dan Fahad akan berhijrah ke sekolah lain. Sebelum dari mereka ada pula M. Sya’ban sudah dahulu berhijrah meninggalkan kelas Xa .

Putik Bertemu Sari

Suasana yang tak biasa dikelas lantai dua. Sudah di tentukanlah dua jurusan yang sebelumnya sudah dilakukan seleksi masuk jurusan lewat serangkaian wawancara dan minat. Terletak di dekat tangga perempuan di situlah kelas baru aku, kelas XI IPA. Anggota baru kelas itu ada Abdul Halim, Ahdianor Fahraini, Ahmad Nazhan, Ahmad Zein Nurhadi, Aniswatun Hasanah, Aulia Rohana, Evie Yuliani, Ferly Mahlita, Fahrizal Rifki, Maruwan Syahruji, M. Amin, M. Azhar, M. Husain, M. Thohir, M. Rahmadhani, Muslim, Murni,  Misgirawanti, Nanda Avisya, Nur Elisya, Nur Huwaida, Nur Khadijah, Purnamawati, Risnayuti, Roni, Sri Nuryanti dan Syarmini. Awalnya memang antara aku dan mereka dari kelas Xb itu kurang begitu terjalin komunikasi. Bahkan namanya hanya beberapa orang yang aku kenal, hanya mereka yang sering dibincang-bincangkan di kelas Xa lalu atau mereka yang tergabung dalam OSIS. Namun tak lama bagiku bisa beradaptasi disitu. Kebersamaan kami bukan hanya sekedar pertemanan tapi membentuk kekeluargaan yang solid. Aku tidak bisa mendeskripsikan satu persatu sifat mereka, walaupun diantara kami terdapat beragam sifat tetapi bagiku mereka semua sangat baik. Bahkan si Zein yang kontroversial itu pun juga tak pernah membuat suatu perasaan kekecewaan bagiku. Walaupun selalu tersaji ejekan dan candaan diantara kami tapi kami sudah memahami satu sama lain. Kekeluargaan itu terjalin hingga kelas XII IPA. Kami selalu merundingkan segala hal untuk kebaikan kelas kami itu. Terbukti setiap perlombaan antar kelas baik perkelompok atau individu, kami selalu mengangkat piala. Setiap masalah kelas pun selalu kami pecahkan secara bersama-sama.

Masa Menuju Perpisahan

Kebersamaan dan kekeluargaan yang sudah terbentuk selama beberapa tahun pun sebentarlagi akan hanya tinggal kenangan. Setelah 13 April 2015 ini, cerita baru akan tercipta. Antara kami dengan mereka yang lain disana ada yang berbeur dengan lingkungan mahasiswa, lingkungan kerja dan masyarakatnya nanti. Hanya tersisa beberapa minggu-minggu ini untuk kami saling bertatapan muka. Baju kebanggaan putih abu-abu sebentar lagi akan tersimpan rapi dalam lemari. Membawa berjuta kenangan dan hangat peluk kebersamaan. Disela-sela sibuknya belajar menghadapi UN, harapan saya masih tersisa berjuta-juta senyum dan tawa dibalik kelas XII IPA.

Akhir kata, tak ada ucapan yang akan mampu membalas seluruh kebaikan kalian. Hanya sebuah kata-kata dalam doa untuk keberhasilan kita semua yang mudah-mudahan Tuhan akan kabulkan. “WE ARE THE BEST”.

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Maret 2015 in Egy Prasetyo

 

Tag: , , , , ,

One response to “Catatan Akhir Sekolah “WE ARE THE BEST”

  1. Ryuzaki Alvarino

    3 April 2015 at 11:17 pm

    Dari catatan yang telah anda tulis, saya dapat menafsirkan kalau anda ini anak biologi.
    salam putik bertemu sari.

    Suka

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: